"Tenang saja, Mbak, pasti ada uang lelahnya, kok," ujar si Mbak PR setelah merincikan keinginannya. Saya hanya bisa menolak dengan menggiringnya kepada rekan kerja saya yang lain. Si Mbak PR secara halus meminta saya untuk membuat sebuah tulisan terkait proyek kliennya. Dia ingin saya menuliskan potensi-potensi ekonomi bila proyek si klien berjalan dengan baik. Saya tolak baik-baik. Ada beberapa alasan yang saya punya kenapa menolak tawaran si Mbak PR. Jangan pikir salah satu alasannya adalah soal idealisme saya sebagai pewarta yang ogah disuap. Alasan saya sederhana saja, malas membuat sebuah tulisan yang ujung-ujungnya tidak bisa masuk ke halaman kompertemen sendiri. Alasan lainnya adalah saya tidak terlalu setuju dengan maksud klien si Mbak PR. Intinya bertentangan dengan pemikiran saya selama ini. Tidak saya ungkapkan hal itu kepada si Mbak PR. Menyesal. Seharusnya itu saya lakukan. Boleh dibilang pekerjaan yang saya lakoni saat ini tidak ada baiknya buat...