Skip to main content

Posts

Showing posts with the label thailand

Finale: Dibuang Sayang

Masih tersisa cerita saudara-saudara. Kisah kecil sebelum perjalanan kami berakhir. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya kalau sebelum keberangkatan kami hujan turun. Chris menyarankan kami untuk menggunakan ojek motor ke terminal dan naik bus ke bandara daripada naik taksi yang bisa mencapai 400 baht per orang. Mengikuti sarannya, kami mencari ojek motor di pinggir jalan. Menurut jadwal, bus akan berangkat sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Saya mengintip jam tangan, sudah 15.10, kami harus segera mendapatkan ojek. Ada seorang tukang ojek, setelah tawar menawar dia minta bayaran 40 baht per orang. Kami mengiyakan, tetapi ternyata dia ingin membonceng kami berdua di atas motornya. Gila pikir saya. Di tengah perdebatan kami meminta ia mencari tukang ojek lainnya, sebuah mobil berjalan mendekat dengan jendela belakang terbuka. Seorang pria menyembulkan kepalanya dan berteriak “Do you know the road to bus station?” tanya dia. “ Yes we do! Can we hope in to your car, i...

Thailand: Bukan Turis dan Tangis Perpisahan

Keesokan paginya Theresa bergegas ke terminal, sementara tinggal sisa kami bertiga meluncur ke pasar tradisional. Sepanjang perjalanan, kami kerap didekati orang dan ditanya “ bi ni? ”. Apaan lagi ini? Chris terkekeh. “ You two look like thai girl that is why they keep asking you in thai. Last night writers also thought you were, but then she realized that you weren’t when you went blank .” Ohhhh,,,,betapa indahnya hidup, saya dianggap menjadi penduduk lokal. Bahkan orang asli kota itupun terkecoh, penampakan saya terlalu Thailand meskipun warna saya lebih gelap dibanding mereka. Secangkir teh thailand mendampingi roti cane kari menjadi menu sarapan saya pagi itu. Pemilik dagangan seorang muslim yang ramah dan sangat senang sekali kalau kami muslim dari Indonesia . “I am a moslem too,” teriak One (baca: wan) kegirangan. Saya enggak paham kenapa dia bereaksi seperti itu, tapi saya senang dengan keramahannya. Membuat saya lebih menjadi thai girl hehehehe…. Tujuan...

Thailand: Piknik Kota Tua

Cuaca Phuket TOwn sangat terik hari itu. Setelah perjalanan panjang Siem Reap-Bangkok-Phuket, saya merasa senang sampai ke kediaman Chris. Serasa sampai di rumah. Menjadi lebih nyaman diakrenakan si empunya apartemen memperlakukan kami seperti teman lama, kami disuruh ambil minum sendiri. Karena kelelahan, saya dan Fitria hanya bersendar ke dinding dan kipas-kipas. Menyadari tamunya sangat pemalu sekaligus kelelahan, Chris menaruh segelas air dingin dan menyuruh kami membersihkan diri. “ You don’t need to entartain me by talking to me. Have your shower and take a rest, we’ll talk later ,” suruh Chris. Mandi, memang itu yang saya butuhkan. Tidak butuh lama bagi saya dan Pipit untuk terlelap setelah mandi. Kami tidur di atas dipan tak berkasur, sebenarnya kasur itu ada, hanya saja agar tidak terlalu kegerahan kasur tersebut disandarkan dan dibiarkan tidak terpakai. Sudah hampir waktu makan malam, saya terbangun. Chris memperkenalkan saya kepada seorang CS lain, Theresa nama...

Thailand: Antiklimaks (2)

Dari seluruh moda transportasi yang saya pakai selama perjalanan, pelayanan dari agen di Thailand boleh dikatakan yang terburuk. Jangan anggap saya berlebihan kalau sudah ngedumel karena kejadian menyebrang Thailand dari Kamboja. Oke, saya ceritakan. Setelah tujuh jam perjalanan dari perbatasan ke Bangkok, kami sampai sekitar pukul 2 siang di sebuah pasar di tengah ibu kota. Saya lupa nama pasar itu, tetapi ramai sekali pengunjung, eh turis maksud saya. Setelah melambaikan tangan dan saling melempar harapan semoga kami saling bertemu di kemudian hari di (entah) belahan bumi lainnya, semua penumpang bubar jalan mencari tujuan masing-masing. Pipit dan saya hanya punya satu tujuan, mencari agen perjalanan ke Phuket. Di Phuket seorang host kami sudah menunggu. Seorang warga negara Amerika Serikat yang sudah menetap berbulan-bulan di negeri tropis ini. Dia mendikte saya perihal pemilihan kendaraan umum. Satu hal yang saya ingat dari sarannya adalah “ do not take the VIP bus, it do...

Thailand: Antiklimaks (1)

Sudah pukul tiga pagi. Saya dan beberapa calon penumpang sudah jengah menunggu bus yang tak kunjung datang, sementara para turis lain masih tertawa-tawa pengaruh minuman. Bus pariwisata pun banyak yang berseliweran, dari yang berbentuk  double decker  keren sampai yang butut kecil.   Satu bus keren melambat di depan tempat penantian kami. Lumayan buat melanjutkan tidur yang belum tuntas, pikir saya. Kami bergegas, namun ternyata bus tersebut malah berlalu. Kecewa. Tak berapa lama bus yang kecil dan tidak nampak terlalu nyaman datang. Perasaan saya tidak enak, tapi kenyataan hidup memang pahit. Pengemudi tuk-tuk yang sedari tadi bertugas menjemput kami, kini berubah menjadi tukang giring penumpang ke dalam bus yang memiliki sandaran kursi kurang nyaman itu. Saya dan Pipit kembali mengambil bus yang langsung mengantarkan kami ke negara sebelah, sama seperti saat dari  Vietnam  ke Kamboja. Namun, kali ini harganya lebih murah hanya US$ 14 dan saya bi...