Skip to main content

Sangiang (2): Pembebasan


Sangiang bukan tempat wisata yang akomodasinya memadai. Karena sedikitnya kamar mandi, Majd memilih untuk membersihkan diri di kamar mandi yang airnya harus ditimba sendiri. Tidak lama setelah masuk kamar mandi, dia menghampiri saya "I droped the basket into the well. I thought the rope binded to something, unfortunately it is not." *tepok jidat*

Sebagian dari kami menginap di rumah warga, sebagian lainnya di pinggir pantai. Sebenarnya saya menginap di rumah warga, tetapi sebelum tidur kami menyambangi mereka yang tidur di pantai. Disentuh angin malam, mendengar debur ombak, dan dipayungi bintang membuat penutupan hari itu menyenangkan. Suasana agak sedikit "terganggu" karena Oshin dan Khaled yang tidak berhenti meributkan hal kecil setiap jarak di antara mereka kurang dari satu meter.

Hari berganti. Rencana kami pagi itu adalah trekking menuju goa kalelawar. Keren, sih, goa kalelawar itu. Goa sempit dengan air laut deras di bawahnya yang kemudian pecah menjadi  tetesan air ketika menghantam batu di mulut goa. Tidak ada yang terlalu sempurna di dunia ini, kerennya pecahan ombak di bawah goa tersebut harus diimbangi dengan bau tak sedap dari kalelawar yang bertengger di langit-langit goa. Mau berfoto di mulut goa? jangan lupa tahan napas, yah, supaya tidak mual.





di beberapa sudut pantai Tanjung  Bajo sangat nyaman dijadikan tempat berdiam diri
Tujuan kami berikutnya adalah pantai Tanjung Bajo. Pantai ini tempat teman-teman menginap semalam. Dalam perjalan menuju pantai kami harus menerobos hutan, Majd mengingatkan saya yang berjalan dibelakangnya untuk memperhatikan kepalanya.

Saya: ih,,,ngapain juga ngeliatin kepala lo?
Majd: look, if my head hit branches it will stretch and swing back and it will hit your head!

Saya: tapi, kalo ngeliat ke atas dan tidak memperhatikan langkah saya bisa terpeleset.
Majd: Up to you! Which one is more important your head or your feet?!

Berdasarkan penilaian bapak pengemudi kapal, kondisi air laut cukup memungkinkan bagi kami untuk bermain-main. yeaay!!!

Oshin langsung memaksa Majd dan Khaled untuk melompat dari atap kapal. Majd mengangguk, Khaled ogah-ogahan. Oshin tak berhenti memaksa, Khaled mengangguk. Akhirnya ketiga orang itu pun berlompatan dari atap kapal langsung ke laut dengan kedalaman sekitar 5 meter tersebut.

Saya? main yang aman saja deh. Saya dan Ayu lebih memilih untuk snorkeling. Saya bisa berenang, tetapi takut akan kedalaman laut, jadi meskipun agak menyiksa life vest selalu terpasang. Ayu menenangkan dan menyarankan saya untuk tidak panik. Diambilnya pelampung tersebut dan membiarkan saya berenang sendiri. Aman. Ayu pun tidak pergi jauh-jauh dari saya, khawatir tiba-tiba saya panik dan tidak ada yang menolong.

Tak berapa lama, Ayu menyusul Oshin untuk melompat. Saya mengamati saja dari bawah. Mendapat partner baru, Oshin makin semangat seakan tenaganya tidak habis di sudut lain kapal saya lihat Khaled bersandar kelelahan.

Seru juga melihat teman-teman meloncat. Saya tanya Ayu apakah aman. Dengan suara menenangkan dia menjawab "aman, kok. yuk!" Lembutnya suara Ayu membuat saya trans, dan tanpa disadari saya sudah berdiri di atap kapal.

Kembali saya disergap kepanikan. Lautnya dalam. Meskipun indah, koral yang ada di bawah sana tampak menakutkan dan saya khawatir terantuk dan terluka. Awalnya hanya saya, Ayu, dan Oshin yang hendak melompat. Ehhh,,,ternyata Majd, Vera, dan Mario mengekor. Serupa pertunjukan, semua penumpang memperhatikan kami. Berenam kami meloncat bersama. 
 
That was liberating moment for me! Ketakutan tak beralasan sebelumnya pecah ketika badan saya menghantam air laut. Buih air laut menggelitik kulit, sakit tapi nikmat. Suara cipratan air mengisi telinga, menarik saya entah kemana untuk beberapa saat. Saya tertawa terbahak ketika kepala berhasil menyembul dari permukaan air. Saya merasa menjadi sedikit lebih rileks. Saya mulai menghitung-hitung berapa kali saya harus melakukan ritual itu agar saya bisa rileks dan easy going serupa the queen of jump off the boat Oshin.

Off we go to Jakarta! Semua muka yang ada di dalam bus sumringah. Saya kembali merasakan romantisme pascaperjalanan. Nothing can make me down for a while, am still on vacation high eventhough Oshin and Khaled were arguing for the rest of the way home.

Comments

Popular posts from this blog

Di Puncak Tangga

Tik..tok..tik..tok... Enggak berasa nih kawan, dah hampir kelar semester tujuh. Semester delapan tinggal beberapa waktu lagi masuk ke dalam kehidupan kita. Dapat dipastikan dengan masuknya semester delapan kita makin sibuk dengan urusan masing-masing. Yang kecil pasti sibuk dengan urusan job tre-nya. Yang cowok pun sepertinya demikian. Yang jilbab gw kurang ngerti neh dia sibuk job tre, kuliah, atau keduanya. Sedangkan jilbab yang lain pasti sibuk dengan organisasinya dan dibantu oleh si pasangan hidupnya. Teman sejawatnya. Sedangkan yang gingsul, rambut panjang, rambut pendek kaca mata, dan gw pasti sibuk dengan kuliah dan job tre. Kalau gw sih ada tambahannya, yaitu bersenang-senang. Hehehe...aku akan menikmati semester besok yang tidak banyak kuliah. Yihaa....setidaknya dengan sedikit kuliah gw bisa mengerjakan sesuatu yang gw dah dari dulu pengen dilakuin. Asik..asik... Tetapi yang jadi masalah gw mesti bersenang-senang sama siapa. Toh, lo semua aja mungkin sibuk dan entah ada di m...
"Dear boys, be the guy you would want your daughter to be with." .: unknown :. Me: the question is what if the boy doesn't want any kid? Her: let's the universe conspire to help us stay away from that kind of boy

Kekasih Hati

malam itu lah malamku ketika aku bertemu denganmu dalam hati ku tersedu tanganku tergenggam menahan haru mataku tak lepas darimu walaupun ku sendiri ragu bunga menebar sejuk wewangian malam itu ku tak mampu menahan rasa yang tak menentu lalu muncullah rasa di dalam benakku ku tak pantas memandangi wajahmu rindu itu belum hilang walau pertemuan itu terkenang dalam hatiku berdoa jangan sampai aku pernah terlupa padamu penjaga hidupku tak pernah meninggalkan aku Sewaktu membaca lirik dan mendengarkan lagu “Bunga di Malam Itu”, gw ngerasa “ God , ni lagu pas banget sama apa yang gw rasain”. Berkali-kali lagu ini terus gw puter. Berhari-hari lagu ini gak keluar dari playlist lagu gw. Sumpah! lagu ini bisa jadi gambaran apa yang sedang gw rasakan saat-saat ini. Kalo boleh berlebihan, lagu ini bisa jadi original soundtrack hidup gw (lebaiiiiiiii.....). Nah, karena tidak puas dengan membaca lirik tersebut akhirnya gw mencari tahu te...