Skip to main content

Who Am I?

I am becoming the person I hate the most.

How I wish to have a peacefull mind but don,t work.

Spend too much time with virtual world drown me into misery.


Popular posts from this blog

P3K

Beberapa waktu lalu, sempat lari sejenak dari Jakarta ke Jogjakarta. Sekitar tujuh hari saya menghabiskan waktu di kota yang sempat menjadi pusat pemerintahan sementara negara Indonesia tercinta. Kali ini, saya belum mau menceritakan lokasi wisata yang saya kunjungi. ada hal lain yang ingin saya ceritakan, tetapi tenang soal perjalanan pasti akan saya tuliskan juga di publikasi berikutnya.
Seperti lazimnya calon turis, saya sangat senang menghadapi hari esok. Sudah terbayang panasnya Jogjakarta dan santainya kehidupan di kota itu. Tetapi, sayangnya, partner jalan saya justru nyeri leher dan pundak sehari sebelum keberangkatan. Otomatis dia tidak bisa angkat ransel. Nyeri, begitu ia beralasan.
Sesampainya di Jogja pertanyaan kedua kami setelah "penginapan murah di mana?" adalah "tempat pijat yang enak dimana?". Partner saya ingin segera meluruskan lehernya dan menikmati liburan kami. setelah keliling-keliling akhirnya kami menemukan pijat tradisional. tampak meyakinka…

Indonesia tidak ada apa-apanya

Seseorang pernah berpendapat "Sepertinya negara-negara di Asia Tenggara iri dengan Singapura." Entahlah apa maksudnya, mungkin berdasarkan pengamatannya Indonesia, termasuk bagian dari Asia Tenggara, cukup tertinggal dengan negara mungil yang ultra modern, rapi, disiplin, dan bersih itu.
Tentu saja saya tidak bisa terima, berbusa-busa menyebutkan keunggulan Indonesia dibanding negeri seberang tersebut. Disebutnya saya Indonesia-sentris. Apa iya? mungkin juga. Lah seumur hidup saya hanya tinggal di Indonesia, belum pernah intip-intip atau memahami lebih dalam negeri lain.
Tapi setelah dipikir-pikir mungkin dia ada benarnya juga. Apalah yang bisa dibanggakan dari tanah kelahiran saya, lihat saja sampah tersebar dimana-mana, tidak teratur, kerap melanggar aturan, korupsi, dan tidak banyak di antara kami yang mahir berbahasa Inggris.
Saya pernah ke Singapura, hanya sebentar dan itu pun urusan pekerjaan dan mengunjungi teman. Terus terang pada kunjungan pertama saya ke negeri Singa …

Kamboja: Mencari Jawaban

Pipit dan saya harus berlari-lari menuju bus yang hendak tancap gas. Kami terlambat sekitar 4 menit dari jadwal keberangkatan Mekong Bus Express yang akan membawa kami ke Siem Reap, Kamboja. Meski sempat dapat tatapan “kemana aja, Neng?” dari si petugas kami berhasil duduk manis di kursi 6A dan 6B.
Bus berangkat pukul 7 pagi waktu HCMC dan diperkirakan butuh waktu 12 jam perjalanan untuk sampai Siem Reap. Kami membayar 22 USD per orang untuk memakai jasa Mekong Express. Sebenarnya ada yang lebih murah, sekitar 18 USD, tetapi berdasarkan wejangan  dari Peter, pria yang menginap di Long Guesthouse, lebih baik memakai Mekong Express karena lebih terjamin dan mereka cukup membantu saat melewati perbatasan. Apa yang dibilang Peter terbukti, kondektur bus cukup membantu kami saat memasuki perbatasan. Bahkan, dia juga membantu sepasang warga Ukraina mendapatkan visa turis.
Naik Mekong Express itu seperti ikut tur. Bila kami baru memasuki provinsi baru, si kondektur pasti akan memberitahukan na…